Regulasi Telekomunikasi Indonesia

Regulasi Telekomunikasi Indonesia merupakan salah satu topik yang selalu hangat dan menarik untuk dibahas (akan tetapi membuat pusing pelaku!). Ada banyak (sub)topik yang dapat dibahas, misalnya:
regulasi Broadband
regulasi Wimax
regulasi penyiaran+jaringan

Kita ambil berberapa contoh. Apakah broadband perlu diregulasi? Mengapa? Ternyata latar belakangnya adalah adanya layanan yang dahulu tidak mungkin diberikan oleh operator telekomunikasi ternyata sekarang memungkinkan. Dahulu hanya operator telepon yang bisa menyalurkan suara saja. Sekarang tidak hanya operator telepon saja, penyelenggara layanan TV kabel, Internet Service Provider (ISP), PLN, dan masih banyak lagi bisa memberikan layanan tersebut. Di sisi lain, TV tadinya hanya bisa diberikan oleh operator tertentu sekarang sudah bisa disalurkan melalui ISP, operator telepon, dan seterusnya. TV sekarang bisa langsung diterima di perangkat handphone 3G (atau melalui Internet). Padahal operator seluler tidak punya ijin penyiaran TV. Campur aduk.

Teknologi berkembang dengan pesat sehingga dalam format digital tidak bisa dibedakan mana suara, data komputer, gambar, dan video. Semuanya data digital. Upaya untuk memilah-milah menjadi sia-sia. Padahal ijin yang ada saat ini terpisah-pisah. Repot ya?

Kalau dahulu untuk mencapai pelanggan (last mile) masih mahal, sekarang sudah jauh lebih murah. Biaya per telepon yang tadinya adalah sekitar US$1000/satuan sambungan telepon sekarang sudah jatuh bisa mencapai US$10. Caranya adalah dengan menggunakan teknologi wireless.
Dalam sharing vision yang baru saja diselenggarakan topiknya adalah “3G under attack”. Serangan dari mana? Ternyata dari Wimax dan mungkin 4G. Bayangkan, operator seluler baru saja membayar lisensi yang sangat mahal (ratusan milyar rupiah), ternyata belum apa-apa sudah mendapat tantangan dari Wimax.

Hasil pengamatan kami sebetulnya menunjukkan bahwa 3G masih lebih matang dari Wimax. Paling tidak, dia akan masih menang sampai tahun 2009. Hah? Hanya sampai tahun 2009? Ya! Padahal operator 3G belum mendapatkan penghasilan apa-apa dari layanannya. Ah, bahkan ada yang belum melakukan investasi apa-apa (apa ini malah bagus?). Jangan-jangan hal ini malah dijadikan alasan untuk tidak melakukan investasi. Ini sudah tahun 2006. Berarti para operator ini hanya punya waktu 3 tahun.

Di sisi lain akan aneh kalau sebuah teknologi harus diganjal dengan sebuah regulasi. Nah, inilah peliknya regulasi telekomunikasi di Indonesia. Tidak semudah dibayangkan kan? Itulah beratnya tugas Badan Regulasi Telekomokunikasi Indonesia (BRTI). Mari kita bantu mereka dengan usulan-usulan yang konstruktif.

Sumber : Budi Rahardjo

http://rahard.wordpress.com/2006/05/26/regulasi-telekomunikasi-indonesia/

Ditulis dalam Wimax. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Regulasi Telekomunikasi Indonesia”

  1. Muhammad Ersyad Hilmi Says:

    Mas, saya tertarik dengan tulisan mas tapi mudah2an komentarnya bermanfaat.

    1. Saya sering baca mengenai kenapa provider2 telekomunikasi sekarang khususnya yang cellular menerapkan teknologi 3G yang udah jelas g keliatan market yang akan dibidiknya.
    Tapi dibalik semua itu 3G di-establish buat memenangkan daya saing bagi marketnya, contohlah penerapan pertama kali oleh pro xl yang kemudian di gembar-gemborkan pada market bahwa mereka adalah layanan yang pertama kali pake jaringan 3G sehingga market akan “tergugah” oleh hanya iklan tersebut padahal belum tentun market tau cara makenya..

    2. keadaan sekarang dimana jaringan network khususnya telekomunikasi udah hampir masuk pada tahap NGN apakah penerapan wimax dapat segera diimplementasikan? atau kira2 kira masih terbentur dengan regulasi lagi? soalnya yang saya sering liat BRTI emang g mau kehilangan aset yang udah ada, contohlah voip yang cuma boleh dipake oleh Telkom dan menyulitkan buat pemain lain untuk masuk, dan kayanya wimax pun di tunda buat mencegah jaringan fixed line-nya yang udah jadi asetnya Telkom. yang ini tolong dibales y..

    dtunggu comment baliknya.. ke e-mail aja..
    thx banget…

  2. donaldabek Says:

    Helo mas Hilmi ,

    Seperti yang kita tahu , saya juga merujuk pada tulisan pakar internet Bapak Budi Rahardjo , beberapa hal yang menarik disimak yah memang di Indonesia sendiri tentang 3G yang sudah diimplementasikan dan memiliki aturan main yang sudah ditetapkan oleh pemerintah . Para provider celuler yang memiliki lisensi tentu saja sudah menginvest dana yang tidak sedikit untuk membayar lisensi sampai kepada penerapan perangkatnya . Ya seperti pak Budi Rahardjo bilang , belum sampe ROI dan teknologi 3G sudah harus berhadapan dengan teknologi lainnya , dilema bukan ? DIsatu sisi sudah mengeluarkan dana besar , disisi lain ada teknologi yang mungkin jauh lebih efisien .

    Banyak perbedaan kelebihan yang didapat dengan penerapan WiMAX sendiri karena WiMAX sangat ideal untuk diimplementasikan di masa depan untuk kebutuhan komunikasi berbagai macam aplikasi dengan penyediaan baik rentang aplikasi maupun bandwith yang lebih besar .

    Berhubung saya juga sedang mencoba untuk membuat translasi tentang WiMAX mungkin anda dapat melihat secara singkat tentang teknologi tersebut . Yang paling jelas terasa adalah penerapan WiMAX untuk kebutuhan broadband internet dikarenakan kemampuan teknologi tersebut untuk mengcover suatu area yang luas dan tersedianya bandwith yang cukup .

    Btw Keep on rockin’ lah ya .
    Thank you .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: